RetroJersey

Retro Leicester City Jersey – Keajaiban The Foxes dari East Midlands

Ada klub yang tidak sekadar bermain sepak bola – mereka menulis dongeng. Leicester City Football Club adalah salah satunya. Berdiri di jantung East Midlands, Inggris, The Foxes telah menemani generasi demi generasi pendukung setia mereka melalui suka dan duka yang begitu dalam terasa. Bagi banyak penggemar sepak bola di seluruh dunia, nama Leicester City akan selalu identik dengan salah satu momen paling mengejutkan dalam sejarah olahraga modern: gelar Premier League 2015-16 yang menggemparkan dunia. Dengan peluang juara yang diprediksi para bandar taruhan hanya 5000:1, mereka membuktikan bahwa sepak bola adalah olahraga yang tidak pernah bisa diprediksi sepenuhnya. Namun Leicester bukan hanya tentang satu musim ajaib. Mereka adalah klub dengan akar yang dalam, identitas yang kuat, dan sejarah yang penuh warna – termasuk banyak perjuangan keras di divisi bawah sebelum akhirnya menemukan tempat mereka di antara elite Inggris. Setiap Leicester City retro jersey yang pernah dikenakan menyimpan cerita: tentang keringat, kebanggaan, dan cinta terhadap warna biru kebesaran mereka. Jika kamu seorang kolektor jersey atau penggemar sepak bola yang menghargai sejarah, koleksi retro Leicester City jersey adalah sesuatu yang tidak boleh kamu lewatkan.

...

Sejarah klub

Leicester City didirikan pada tahun 1884 dengan nama Leicester Fosse FC, sebuah klub yang tumbuh dari komunitas lokal di kota Leicester. Mereka bergabung dengan Football League pada 1894 dan berganti nama menjadi Leicester City pada 1919, seiring kota Leicester mendapatkan status kota resmi. Sejak awal, The Foxes dikenal sebagai klub yang tangguh namun sering berada di bayang-bayang raksasa Inggris seperti Manchester United dan Liverpool.

Era 1960-an dan 1970-an menjadi salah satu masa paling kompetitif bagi Leicester. Di bawah manajer legendaris Matt Gillies, mereka tampil di final FA Cup 1961 dan 1963 – sayangnya gagal di kedua kesempatan tersebut. Meski demikian, kehadiran mereka di level tertinggi sepak bola Inggris tak terbantahkan. Leicester juga pernah merasakan pahitnya degradasi beberapa kali, namun selalu menemukan jalan untuk kembali bangkit.

Tahun 1990-an membawa gelombang baru bagi Leicester. Di bawah asuhan Martin O'Neill, mereka meraih kemenangan di Piala Liga pada 1997 dan 2000 – trofi yang menjadi bukti bahwa The Foxes bisa bersaing di level tertinggi. Pemain seperti Steve Walsh, Neil Lennon, dan Muzzy Izzet menjadi pahlawan di era ini.

Namun puncak kejayaan sejati datang di musim 2015-16 yang tak terlupakan. Di bawah kepemimpinan Claudio Ranieri, Leicester memulai musim sebagai kandidat terkuat untuk degradasi, namun akhirnya mengakhirinya sebagai juara Premier League dengan selisih 10 poin dari runner-up Tottenham Hotspur. Jamie Vardy, Riyad Mahrez, N'Golo Kanté – nama-nama ini menjadi legenda dalam semalam. Dunia sepak bola terpesona. Itulah Leicester City.

Kemudian datang era pasang surut: Leicester merasakan duka ketika pemilik klub Vichai Srivaddhanaprabha meninggal dalam kecelakaan helikopter pada 2018 – sebuah tragedi yang mengguncang seluruh dunia sepak bola. Musim 2023-24 berujung pada degradasi ke Championship, namun semangat The Foxes tidak pernah padam. Derby sengit melawan Nottingham Forest dan Derby County selalu menghadirkan atmosfer luar biasa di King Power Stadium.

Pemain hebat dan legenda

Leicester City telah melahirkan dan menampung pemain-pemain yang namanya terukir dalam sejarah sepak bola Inggris dan dunia. Di era modern, tidak ada nama yang lebih ikonik dari Jamie Vardy – penyerang yang perjalanannya dari tim non-liga Fleetwood Town hingga menjadi pencetak gol terbanyak di musim juara 2015-16 adalah kisah yang menginspirasi jutaan orang. Vardy memecahkan rekor gol beruntun di Premier League dengan mencetak gol dalam 11 pertandingan berturut-turut.

Riyad Mahrez, pesepak bola Aljazair yang memiliki kaki kiri bak sihir, memenangkan penghargaan PFA Players' Player of the Year di musim ajaib tersebut sebelum akhirnya pindah ke Manchester City. N'Golo Kanté, sang mesin di lini tengah, hanya bermain satu musim di Leicester namun dampaknya tak ternilai – gaya bermainnya yang penuh energi menjadi fondasi juara.

Dari era sebelumnya, Gordon Banks – salah satu kiper terbaik sepak bola sepanjang masa dan pahlawan Piala Dunia 1966 Inggris – memulai kariernya di Leicester. Peter Shilton juga mengikuti jejaknya sebagai kiper Leicester yang luar biasa. Gary Lineker, legenda Inggris yang kini lebih dikenal sebagai presenter TV, mengasah skill-nya di Leicester sebelum melejit ke Barcelona dan Tottenham.

Di kursi manajer, Martin O'Neill menorehkan kenangan indah dengan dua gelar Piala Liga, sementara Claudio Ranieri selamanya akan dikenang sebagai arsitek dari momen paling ajaib dalam sejarah Premier League. Brendan Rodgers kemudian memimpin Leicester meraih gelar FA Cup 2021, trofi perdana mereka di kompetisi bergengsi tersebut.

Jersey ikonik

Jersey Leicester City telah melalui evolusi desain yang menarik sepanjang dekadesnya, namun satu hal tetap konstan: warna biru dongker kebesaran mereka yang khas, sering dikombinasikan dengan detail putih atau kuning/emas.

Pada era 1980-an, jersey Leicester menampilkan desain sederhana namun elegan khas zaman itu – kaos polos dengan kerah dan detail minimalis yang kini sangat dicari para kolektor. Era 1990-an membawa sentuhan lebih berani dengan pola geometris dan sponsor Admiral serta Walkers Crisps yang ikonik. Jersey home biru navy dengan strip putih di era ini memiliki tampilan klasik yang tidak lekang oleh waktu.

Masuk ke era 2000-an, teknologi fabrik modern mulai diterapkan dengan desain yang lebih dinamis. Namun jersey yang paling bernilai koleksi tentu saja adalah dari musim 2015-16 – Jersey home biru gelap dengan aksen emas dari Puma menjadi simbol keajaiban sepak bola modern. Jersey away putih dengan detail biru dari musim yang sama juga sangat diburu.

Jersey third berwarna abu-abu atau hitam dari beberapa musim di era 2010-an juga mendapat tempat spesial di hati kolektor. Detail bordir King Power Stadium dan logo rubah yang terus berevolusi di setiap dekade membuat setiap Leicester City retro jersey memiliki karakternya sendiri yang unik dan menceritakan era berbeda dari sejarah klub ini.

Tips kolektor

Bagi kolektor retro Leicester City jersey, jersey musim 2015-16 adalah Holy Grail yang paling dicari – harganya bisa sangat tinggi terutama jika dalam kondisi mint dan berukuran asli pemain. Jersey match-worn dari musim bersejarah ini bernilai luar biasa.

Untuk kolektor dengan budget lebih terjangkau, jersey era 1990-an dengan sponsor Walkers Crisps menawarkan nilai nostalgia tinggi dengan harga yang lebih masuk akal. Perhatikan kondisi jahitan logo dan sponsor – jersey asli memiliki kualitas bordir yang sangat berbeda dari tiruan.

Jersey FA Cup 2021 juga mulai naik nilainya. Ukuran L dan XL umumnya lebih mudah ditemukan, sementara ukuran S dan M lebih langka dan bernilai lebih tinggi. Selalu periksa keaslian hologram dan tag resmi Puma atau Adidas sebelum membeli.